Mimpi Absurd feat. Konferensi Fiksi Ilmiah
Baru sehari lebaran, eh malemnya udah mimpi aneh.
Begini ceritanya….
Entah bagaimana caranya, seorang teman gue yang mengesalkan dari SMA berhasil meyakinkan acara infotainment di TV kalo gue naksir sama dia. Infotainment tersebut sampai mengadakan wawancara live untuk mengorek kebenaran tersebut. Gue yang merasa tidak terima punya bukti berupa surat-surat yang intinya berisi bahwa gue tidak pernah sedikitpun naksir sama dia.
Surat ini ada di kamar kosan gue yang ada di sebuah rumah panggung dari kayu yang berhantu. Kalau malem suka ada yang nempel di kaca dan tangan-tangan buntung entah dari mana. Gue masuk dan ngambil surat-surat itu. Begitu gue keluar dari rumah kosan dan turun tangga, gue ketemu pacar, si Sendi yang pastinya kepo nanya kenapa gue buru-buru (dan gak bales smsnya). Gue menjelaskan bahwa harus ke stasiun TV sekarang juga untuk meluruskan fitnah yang menyerang. Tiba-tiba muncul Sartom yang berkata bahwa dia tau jalan pintas ke sana.
Sendi berkata, “Ayo kalian berdua naik ke punggung gue! Kita bisa lebih cepat sampai kalau begini!”
Akhirnya gue dan Sartom digendong di punggung lalu Sendi berlari melesat melewati sebuah jalan setapak yang ditunjukkan Sartom, lengkap dengan efek garis-garis hitam pertanda kecepatan seperti di ‘Naruto’. Jalanan ini berumput namun botak di tengah-tengahnya. Semacam jalan ke pegunungan yang di kiri dan kanannya ada tukang-tukang jualan bunga dan bonsai dan jamur-jamur gitu. Ketika menengok ke kiri, di belakang tukang-tukang tersebut ada pemandangan pegunungan yang luar biasa indah. Sambil berlari kami menikmati pemandangan tersebut. Tiba-tiba…
“STOP!”
Ada seorang cewek merentangkan tangan menghentikan kami. Sendi terpaksa berhenti. Cewek itu familiar, ternyata Yessy teman SMP gue di Malang dulu (yang udah nggak ketemu dari tahun 2004). Akhirnya gue dan Sartom turun.
“Yessy? Kenapa ada di sini?” Gue menyapa.
“Iya, gue SPG jamur nih,” jawabnya.
“Hah? Udah lama banget kita ga ketemu. Gimana Bobby, Kemal, ciye ciye laris ya waktu SMP….”
Yessy tersipu. “Liat-liat dulu dong jamur dagangan gue,” katanya sambil menunjuk dagangannya.
Jamur-jamur itu banyak dan berbagai rupa. Bentuknya bagus-bagus, ada yang tudungnya warna pink dan berkilauan, ada yang putih kayak mutiara, pokoknya indah luar biasa. Sartom memekik, “WAH! Ini jamur kayak di film Pai Su Chen!” Lalu dia beli satu pot.
Gue dan Sendi akhirnya jalan lalu melihat sekeliling. Ternyata itu adalah Konferensi Fiksi Ilmiah yang diadakan di suatu aula gede (yang sepertinya Sabuga). Bahkan ada iklan ditempel di dinding isinya, ‘Pijat Fiksi! Berkelilinglah dan temukan apa yang tidak dapat Anda lihat’. Absurd banget.
Akhirnya gue ketemu wajah-wajah familiar lagi. Ternyata itu Dito (temen gue yang berkulit legam dan keriting serta gigi putih) dan Bojes (yang kya-kya). Mereka lagi cosplay Ragnarok… gue gak tau kostum dari job apa yang mereka pakai, yang jelas warnanya cokelat dan Dito pake kostum cewek sementara Bojes malah pake kostum cowok. Kostum yang dipake Dito mirip Xena gitu, rok kulit rumbai dan armor beha. Ganggu bener dah. Mereka girang dan minta difotoin.
Tiap difoto, mereka pasang muka hepi dan berdiri agak berjauhan sambil nunjuk ke space kosong di antara mereka.
“Kok fotonya jauhan? Gak deketan aja?” Sendi kepo.
“Iya biarin,” jawab Dito, “soalnya nanti space kosong di tengah kita itu buat ditambahin editan gambar Poring hihihi….”
……………………………………………………
Sampe di sini gue bangun.
Ga ngerti deh kenapa mimpi gue beginian mulu tipenya….
