For No One
Heartbreak and the other thing.
Heartbreak and the other thing.
Wonderful ladies with badass songs. Musics from 2007-2009, still great tho.
The dafuq-est thing in my life; Arya Wiguna made an even funnier joke of himself.
|
apintofoxymoron MESSAGED: Cak, lucu banget cak cerpen lo. Imut-imut tolol gimana gitu lucuuu. |
Bahaha sap makasih lho, terharu………
Gue pernah mengalami masa-masa seneng nulis cerpen remaja riang gembira waktu SMA dengan tujuan dikirim ke majalah kaWanku biar dapet duit. Tapi, gue nggak pernah pede dan akhirnya gue nulis banyak cerpen yang cuma dibiarin aja mengendap di hardisk. Tadi iseng-iseng gue bacain lagi dan astaga………. HAHA gue merinding bacanya. Semuanya berbau cinta-cinta remaja. Ada yang naksir sahabatnya tapi sahabatnya udah punya pacar (klise), ada yang naksir kakak kelas anak basket (harga mati cowo keren di cerpen remaja waktu itu; kalo engga ketua OSIS ya anak basket), ada yang naksir cowo tapi cowonya gay, ada yang naksir tukang becak mirip Marcel Chandrawinata (jamannya gue super gandrung ke doi aduh)… ya gitu-gitu deh isinya haha…
Terus gue nemu cerpen ini, judulnya Misteri Puisi. Gue inget bikin ini pas SMA, baru penjurusan masuk IPA dan lagi muak-muaknya ama pelajaran yang IPAAAAAA melulu. Intinya ini cerpen kampring tentang cewek yang dikirimin puisi sama pemuja rahasianya lewat mading, tapi puisinya berbau IPA. Najis gak sih fuahaha… sad to say, dibanding yang lain, cerpen ini paling less malu-maluin -_- tapi tetep aja kampring.
Kalo kepo, boleh diintip. Harap diingat ini dibikin tahun 2006-an, jadi ya gitu hahaha… Kalo kesel bacanya, jangan salahin gue hahaha, orang gue juga kesel bacanya zzz…

Magikarp: This weak and pathetic Pokémon gets easily pushed along rivers when there are strong currents.

Gyarados: Once it appears, its rage never settles until it has razed the fields and mountains around it.
Kalbu gue begitu tersentuh ketika tadi gue begitu senewen dan merasa nggak bisa sabar lagi, tetapi gue mengingat suatu momen penting kala baru mendapat fishing rod dan memancing di suatu tempat di Rute 205 atau mana itu gue lupa. Seekor Magikarp yang lemah tersangkut kail pancing gue (no wonder, right?) dan levelnya cuma 5.
Kemudian gue melanjutkan perjalanan dan dihadang Pokemon liar. Sialnya, Magikarp gue entah kenapa gak sengaja ke-set jadi Pokemon nomer satu. Tentu saja si ikan ini nggak bisa ngapa-ngapain kecuali Splash, itu pun nothing happened. Setelah itu, gue ganti Pokemon dan mengalahkan musuh dengan mudah. Untungnya, karena sempat muncul di battle, si Magikarp ikut kena experience.
Jadilah, gue memutuskan untuk menaikkan level Magikarp secara jujur dengan cara begitu. Munculin di battle, terus simpen lagi. Setelah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali, Magikarp gue akhirnya sampe level 20 dan berubah jadi Gyarados (padahal kenapa ya nggak gue titipin aja di daycare biar naek level gampang zzz). Pada akhirnya gue menarik napas dan percaya bahwa gue telah mampu membesarkan Magikarp dengan cara yang benar-benar menguras kesabaran, maka gue termasuk orang yang mampu untuk bersabar, lalu pada akhirnya gue nggak senewen lagi.
Magikarp si pathetic mampu mengajarkan kesabaran dan kekuatan yang tersimpan pada seorang underdog. Kemarahan yang dirasakannya ketika menjadi Gyarados mungkin berasal dari tekanan mental dan sikap meremehkan yang selalu diterimanya dari semua orang di dunia semasa dia masih menjadi Magikarp. Dalam wujud Gyarados, mereka yang menertawakannya tentu saja tidak berdaya menghadapinya yang super mighty. Jadi, mungkin habit ngatain orang yang inferior perlu dikurangi, yes, karena rasanya parah banget kalau harus di-crush mereka saat mereka udah jadi Gyarados.
And yes I am babbling. And yes gue pengen maen Pokemon lagi…….. aduh back to work dulu.
Ada lagi hikmah yang didapat dari Pokemon?
Idk, I guess this is a very random and messy fanfiction about Hotel Chevalier slash prologue to this thread, mixed with my RPG character, and a lot inspired by Peter Sarstedt’s Where Do You Go To (My Lovely). Do not expect wonderful storyline, writings, or whatever here (actually like I said earlier, this is a quite messy and rambling-ish story), this is just a random writing I did between my beloved final project.
Quite long, 1655 words, Indonesian.
Disclaimer: Hotel Chevalier, Francesca & Francis Morcerf belong to their respected owners.